Penjarahan Kapal Kisah Apes Kapten Gordon dan Kapal Penjelajah Inggris HMS Exeter

Sebelum tiba di Jawa, kapal perang Inggris jenis penjelajah berat HMS Exeter sudah terlibat dalam pertempuran River Plate di Amerika Selatan pada 13 Desember 1939. Ketika pertempuran itu terjadi, Kapten Frederick Bell (1897-1973) adalah nahkodanya.

Kerusakan oleh pertempuran membuat HMS Exeter harus diperbaiki. Menurut Leo Marriott dalam Treaty Cruisers: The World’s First International Warship Building Competition (2005: 36), perbaikan memakan waktu 12 bulan hingga Maret 1941. Ketika kapal belum turun ke laut, nahkodanya diganti. Dari Kapten Frederick Bell ke Kapten Walter Napier Thomason Beckett (1893-1941).

Sayangnya, usia Kapten Thomason Beckett tidak panjang. Setelah sakit dan dioperasi, Beckett meninggal pada 10 Maret 1941. Demi keberlanjutan komando kapal, Laksamana Muda Edward Neville Syfret (1889-1972), perwira senior di Angkatan Laut Britania Raya, menelepon Kapten Oliver Loudon Gordon (1896-1973).

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Sangiang Dan Harga Tiket Kapal Pelni Sangiang

“Dia memerintahkan aku, pada malam berikutnya, menuju ke Devenport (untuk) mengambil alih HMS Exeter sebagai komandan,” tulis Gordon dalam Fight it Out(1957: 94).

Kapal itu, menurut M.J. Whitley dalam Cruisers of World War Two: An International Encyclopedia (1995: 95), sempat ikut konvoi armada Inggris di sekitar Samudera Atlantik. Setelah Pearl Harbour diserbu Jepang, kapal ini diarahkan ke front Pasifik.

Jack Leonard Sagar Coulter dalam The Royal Naval Medical Service, Volume 2 (1954: 202) mencatat, antara 1 Januari hingga 13 Februari 1942, HMS Exeter ikut mengantar tiga belas konvoi pasukan dan bahan material untuk perang ke Singapura. “Dalam perjalanannya, meski mendapat serangan berat dari udara, kapal ini lolos tanpa kerusakan,” tulis Coulter.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Umsini Dan Harga Tiket Kapal Pelni Umsini

Pada pertengahan Februari, di Selat Gasper, di antara Bangka Belitung, kapal ini diserang pesawat Jepang dari pukul 09.00 hingga 17.00. Pada akhir bulan, kapal ini sudah berada di sekitar Jawa di bawah komando Laksamana Helfrich yang tergabung dalam American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM).

HMS Exater, menurut Peter Plowman dalam Across the Sea to War (2014: 336), sempat mendampingi kapal-kapal sekutu ABDACOM menuju Cilacap, Jawa Tengah. Armada yang dibentuk selama Perang Pasifik dalam Perang Dunia II ini berangkat pada 20 Februari 1942. Setelahnya, Exeter kembali bersama armada lain di sekitar Laut Jawa.

Malam, 28 Februari 1942, menurut Steve Backer dalam Japanese Heavy Cruisers: Myoko and Takao Classes (2011), HMS Exeter angkat sauh menuju Sri Lanka, dikawal dua kapal perusak, HMS Encounter dan USS Pope (AS). Belum lepas dari Laut Jawa, rombongan HMS Exeter kena cegat Angkatan Laut Jepang.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Mudik Lebaran 2019 Dan Harga Tiket Kapal Pelni Mudik Lebaran 2019

Ketiga kapal sekutu itu pun dikepung dan dihajar torpedo-torpedo dari kapal-kapal perusak Jepang: IJN Ashigara dan Myōkō dari utara serta Nachi dan Haguro dari selatan. Kapten Gordon dan armada yang terjebak itu pun melawan.

Kapten Gordon dalam Fight it Out (1957: 3) menulis, “Di depan ada dua kapal penjelajah besar dengan satu atau lebih kapal perusak. Di selatan, sekitar lima belas mil jauhnya, ada dua kapal penjelajah besar lain dengan tiga atau empat kapal perusak. Rute kami ke Selat Sunda diblokir dan tidak ada yang bisa dilakukan kecuali melawan.”

Gordon menilai armadanya sudah begitu payah dan tak mungkin bisa menang. Menyelamatkan kapal pun sudah tidak mungkin lagi. Ia pun memerintahkan menenggelamkan kapal.

Kapten Gordon Selamat, Kapalnya Tidak

“Sekitar pukul 11.35, di atas sistem siaran (yang masih bekerja), saya memberi perintah: Abaikan kapal,” ujar Gordon. (1957: 145).

HMS Exeter pun dinyatakan tenggelam di sekitar Pulau Bawean, 1 Maret 1942. Setelahnya, para awak yang selamat dan terombang-ambing pun beresiko tinggi ditangkapi Angkatan Laut Jepang.

Kapten Gordon, menurut G. Hermon Gill dalam Australia in the War of 1939–1945: Series 2 — Navy: Volume I – Royal Australian Navy, 1939–1942 (1957: 623-624), berhasil ditangkap Jepang. Ia digelandang bersama nahkoda kapal HMS Encounter dan nahkoda kapal USS Pope, ditambah perwira-perwira dan awak-awak lain yang berjumlah lebih dari 600 orang. Mereka dijadikan tawanan perang Jepang.

Menjadi tawanan Jepang bukan hal menyenangkan. Banyak anggota Angkatan Laut sekutu yang jadi tawanan perang diikutsertakan dalam kerja bakti demi militerisme Asia Timur Raya. Salah satunya dilibatkan dalam proyek pembangunan rel kereta api Burma—yang dikenal sebagai Rel Maut. Tak sedikit tawanan perang yang meninggal di masa pendudukan Jepang.

Gordon juga menderita dalam penahanannya. Ia pernah dibawa ke Makassar, tempat Armada Selatan Kedua Angkatan Laut Jepang bermarkas.

Seorang perwira Jepang yang cukup senior dengan sangat pedas menyambut Gordon di Makasar. Perwira Jepang ini begitu penasaran mengapa Gordon sebagai kapten kapal masih hidup.

Gordon menjelaskan bahwa ia telah ditangkap oleh salah satu kapal perusak Jepang. Dengan bahasa Inggris yang kacau, perwira Jepang itu bilang ke Gordon: “Kapten (kapal perang) Jepang tenggelam bersama kapalnya.”

Meski HMS Exeter dinyatakan tenggelam, namanya terus dihidupkan. HMS Exeter dijadikan nama kapal yang dikeluarkan pada April 1978. Kapal ini ikut serta dalam konflik Inggris dengan Argentina di Perang Malvinas pada awal dekade 1980-an.

Belakangan, bangkai kapal HMS Exeter yang tenggelam di Laut Jawa dikabarkan telah dijarah pada 2016. Kapal sepanjang 175 meter itu, termasuk pula HMS Encounter, nyaris seluruhnya lenyap dari dasar laut.

Seorang arkeolog dan peneliti dalam kejahatan maritim berkata kepada The Guardianbahwa menteri pertahanan Inggris dinilai tak bisa melindungi bangkai kapal bersejarah ini karena “terlalu sulit dan terlalu mahal ongkosnya.” Meski begitu, ia bilang, dalih semacam itu “sulit diterima oleh publik luas, terutama bagi para veteran dan keluarga korban.”

Penelusuran reporter Tirto pada November 2017 juga menduga bahwa seluruh bangkai kapal Exeter telah habis dijarah, bersama kapal perang Belanda di titik koordinat terdekatnya di Laut Jawa, yakni HNLMS De Ruyter, HNLMS Java, dan HNLMS Kortenaer.

Kecelakaan Kapal KM Lestari Maju: 139 Penumpang Dievakuasi

Ditjen Perhubungan Laut (DJPL) mengatakan kapal penyeberangan KM Lestari Maju telah mengalami kecelakaan di perairan Selayar Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Selasa (3/7) pukul 14.30 WITA.

Berdasarkan keterangan Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Bulukumba, Zainuddin, Kapal KM. Lestari Maju itu terindikasi kemasukan air saat sedang berlayar menuju Kabupaten Selayar akibat cuaca buruk.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Sinabung Dan Harga Tiket Kapal Pelni Sinabung

Sampai saat ini, ada sekitar 139 penumpang kapal KM Lestari Maju yang sedang dalam proses evakuasi oleh kapal-kapal nelayan dan tim evakuasi dari Basarnas. Adapun kapal-kapal besar tidak dapat mendekat dikarenakan cuaca buruk.

“Kapal tersebut membawa kendaraan roda dua sebanyak 18 unit, kendaraan roda empat sebanyak 14 unit, kendaraan golongan 5 sebanyak 8 unit dan kendaraan golongan 6 sebanyak 8 unit dengan jumlah total seluruhnya 48 unit kendaraan,” ungkap Kepala Bagian Organisasi dan Humas DJPL, Gus Rional melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Selasa (3/7).

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Leuser Dan Harga Tiket Kapal Pelni Leuser

Rional mengatakan, saat ini KM Lestari Maju sudah dikandaskan di perairan Selayar sekitar 300 meter dari pantai Pabadilang. Ia juga menegaskan bahwa sebagian penumpang sudah berhasil dievakuasi, sementara sebagiannya lagi masih berada di atas kapal.

“Seluruh penumpang telah mengenakan jaket keselamatan (life jacket) serta telah mengikuti prosedur keselamatan di atas kapal dengan panduan dari Nakhoda dibantu kru kapal,” kata Rional.

Rional juga menegaskan bahwa Ditjen Perhubungan Laut akan terus memantau dan memberikan bantuan semaksimal mungkin untuk mengevakuasi para penumpang KM Lestari Maju.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Kelimutu Dan Harga Tiket Kapal Pelni Kelimutu

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan, ada sekitar empat orang yang diduga meninggal dunia akibat insiden tenggelamnya kapal Lestari Maju di perairan sekitar Kepulauan Selayar itu.

“Baru informasi awal ada empat orang meninggal dunia termasuk salah satu bayi,” kata Dicky Sondani kepada Tirto, Selasa siang.

Menurut Dicky, polisi sedang mencari tahu penyebab pasti insiden tersebut. Sejauh ini, polisi menduga kapal tersebut mengalami kebocoran di bagian lambung kapal.

Dicky menyebut korban tewas dalam insiden diduga karena mereka menjatuhkan diri atau terjatuh ke laut, saat nahkoda mencoba membawa kapal tersebut kapal ke salah satu pulau dekat perairan.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Pangrango Dan Harga Tiket Kapal Pelni Pangrango

Saat ini, kata dia, proses evakuasi kecelakaan kapal itu tengah berlangsung. Menurut Dicky, kejadian kali ini tidak akan seperti kecelakaan Kapal Motor Sinar Bangun yang karam hingga ke dasar laut. Kapal itu sudah dalam proses evakuasi.

“Sekarang sedang evakuasi korban. Akan dicek berapa korban selamat dan berapa meninggal dunia,” tegasnya lagi.

 

Luhut Binsar Panjaitan: Soal Penjarahan Bangkai Kapal, “Dulu Boleh Ngambil, Sekarang Tidak”

Sejak kabar hilangnya tiga bangkai kapal perang Belanda dan satu kapal perang Inggris di Laut Jawa mencuat pada November 2016, isu penjarahan menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Apalagi Indonesia mendapat kritik karena dituding melakukan pembiaran atas pencurian dan pengutilan kapal bersejarah.

Segera saja, pada Februari 2017, rapat pertama dengan perwakilan pemerintah Belanda digelar di Jakarta. Disusul pertemuan dengan negara-negara lain yang kapal perangnya juga tenggelam di perairan Indonesia ketika Perang Dunia II. Mereka adalah Australia, Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Lawit Dan Harga Tiket Kapal Pelni Lawit

Sejak itu, isu mengenai kapal perang dikomunikasikan di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Rapat untuk membahas hilangnya kapal-kapal bersejarah dilakukan lintas kementerian. Hasilnya, ada moratorium mengenai izin pembersihan alur laut yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Hubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Selain itu, rapat mengusulkan diubahnya peraturan menteri perhubungan mengenai izin pembersihan alur laut.

Poin rapat itu selaras dengan temuan kami di lapangan: modus pembersihan alur laut dipakai para pelaku mengangkut kapal-kapal bersejarah.

Baca juga : Jadwal Kapal Pelni Tatamailau Dan Harga Tiket Kapal Pelni Tatamailau

Namun, menurut Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, kerja sama untuk melakukan investigasi termasuk meneliti keberadaan kapal-kapal perang di Indonesia belum dilakukan, termasuk juga dengan Belanda.

“Sampai sekarang belum ada,” ujar Luhut di kantornya, 9 Januari lalu.

Wawancara Tirto dengan Luhut berlangsung hanya 15 menit. Luhut ditemani Ezki Suyanto, staf khusus bidang media sosial. Berikut petikannya.

Apa hasil rapat lintas kementerian terkait hilangnya kapal-kapal bersejarah dan diduga menggunakan modus pembersihan alur laut?

Baca juga : Jadwal Kapal Pelni Gunung Dempo Dan Harga Tiket Kapal Pelni Gunung Dempo

Jadi pembersihan alur laut itu memang sekarang sedang difinalisasi. Kami berharap bisa segera jalan. Tapi yang menjadi isu lagi: bekas kapal-kapal (bersejarah) tenggelam itu. Kami sekarang sudah sepakat tidak mau lagi membersihkan. Biarkan itu menjadi tempat bagi turis, seperti misalnya tadi kapal perang itu.

Australia meminta supaya bisa dipertahankan. Memang ada sembilan kapal yang sudah diambil, sekarang sedang ditangani Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karena ditangani di sana, dan bagaimana kira-kira barang-barang yang didapat itu.

Itu terkait Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT)?

Iya.

Apa permintaan dari negara yang kapal perangnya tenggelam di perairan Indonesia?

Mereka minta kalau boleh makamnya ada di situ, jangan diganggu lagi. Jadi mereka mau bikin semacam tempat wisata bagi turislah, begitu. Setelah kami hitung-hitung, benar juga. Sehingga kami sepakati waktu itu dengan Menteri Kelautan, Menteri Pendidikan, Menteri Perhubungan, biar aja di situ dan sekarang sudah berjalan.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Dorolonda Dan Harga Tiket Kapal pelni Dorolonda

Sekarang mungkin kami mau mengajak untuk bikin tanda-tandanya dan pengamanan supaya jangan dijarah orang.

Mengenai kapal-kapal yang sudah hilang, November lalu ramai?

Banyak. Kapal-kapal itu berapa ratus, mungkin sampai ribuan dan itu di laut dangkal. Untuk laut dalam, kami belum tahu karena baru laut dangkal yang baru kami lihat lagi.

Bukankah mengenai kapal-kapal bersejarah pemerintah Belanda khususnya mengajukan investigasi bersama dengan Indonesia. Sebetulnya ke mana, sih, hilangnya kapal-kapal ini (Belanda)?

Sampai sekarang belum ada. Tapi kami tidak mau melihat ke belakang lagi, jadi sekarang kami (melihat) ke depan. Kalau diceritakan, ini jadi panjang.

Baca Juga : Harga Tiket Kapal Pelni Lambelu Dan Jadwal Kapal Pelni Lambelu

Artinya, dari penjelasan Anda, Belanda sampai saat ini tidak melakukan komunikasi dengan Indonesia terkait hilangnya kapal-kapal mereka?

Sampai sekarang tidak. Australia yang kapalnya tenggelam di perairan Banten yang melakukan komunikasi.

Apa isi perbincangan Duta Besar Australia terkait kapal bersejarah mereka (HMAS Perth) di Selat Sunda?

Mereka menyampaikan kalau bisa jangan diganggulah atau diambil oleh siapa lagi. Biarlah kapal itu di sana. Damailah di situ. Kira-kira begitu.

Mengenai kapal-kapal bersejarah yang hilang, dari temuan kami di lapangan pembersihan alur laut menjadi modus untuk melakukan pencurian?

 

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Kelud Dan Harga Tiket Kapal Pelni Kelud

Sekarang sudah tidak boleh lagi, kan? Sudah kami awasi setelah ada ketentuan. Orang pasti kami monitor. Pasti ada upaya pencurian itu, tapi tidak akan gampang karena mereka harus stay cukup lama dan tentu ada kapal patroli. Mudah-mudahan kami bisa perkecil hal-hal seperti itu [pencurian kapal bersejarah].

Apa sanksi bagi para pelaku pencuri kapal bersejarah jika mereka terbukti?

Saya tidak mengerti peraturannya bagaimana. Mungkin bisa pidana atau bagaimana. Kalau mencuri aset, saya kira itu bisa pidana.

Artinya, negara pemilik kapal atau pemerintah Indonesia bisa melakukan gugatan terkait pencurian ini?

Bisa dua-duanya.

Kalau melihat aturan hukumnya bagaimana?

Kalau teknis, saya kurang tahu. Tapi saya kira dari staf kami bilang ada yang bisa kami kejar (pertanggungjawaban).

Kejar dalam arti apa?

Kalau dia melakukan pencurian bisa kami tangkap.

Sejauh ini, apakah sudah ada investigasi terkait hilangnya kapal-kapal bersejarah?

Belum.

Atau negara pemilik kapal-kapal perang sudah memberitahu di mana titik-titik lokasi kapal milik mereka?

Sepanjang yang saya ingat, ada.

Negara-negara mana saja yang sudah memberi titik lokasi keberadaan kapal-kapal bersejarah milik mereka?

Saya tidak ingat, dan rapat terakhir sudah banyak. Nanti coba saya lihat file lagi.

Apakah ada rapat selanjutnya membahas mengenai hal ini?

Pastilah, karena pendalaman laut sampai saat ini belum selesai. Jadi mungkin setelah minggu depan, kami akan rapat mengenai pendalaman alur.

Kalau boleh tahu, apa isi bahasan dalam rapat?

Pendalaman laut tadi. Jadi kalau ada kapal yang tenggelam di pendalaman alur, itu masih bisa dipindahi. Tapi, kalau tidak di dalam pendalaman alur, itu tidak boleh diganggu lagi. Biarkan saja di situ. Tapi sepanjang kami tahu, di sepanjang pendalaman alur itu, hampir tidak ada kapal (perang) itu.

Artinya kapal ini sebenarnya tidak berada di alur laut?

Dulu sebenarnya, kan, boleh ngambil, jadi banyak yang ditemukan di dalam alur. Sekarang sudah tidak boleh lagi. Itu saja bedanya.

Apa langkah konkret terkait hilangnya kapal-kapal bersejarah di perairan Indonesia mengingat ketika isu mengenai ini mencuat, Indonesia mendapat kritikan dan dituding melakukan pembiaran?

Waktu itu kami belum seperti sekarang. Saat ini lebih tertib.

Apa langkah konkret pemerintah terkait bangkai kapal-kapal bersejarah?

Kalau memang sudah diketahui titik-titiknya, pastilah akan ada patroli. Artinya, ada pengawasan dan orang juga tidak bisa melakukan pencurian dalam sehari, kan? Musti beberapa hari. Dia pasti akan stay di sana. Jadi kami akan lihat, karena sudah ditentukan titiknya.

Anda tadi mengatakan, ada pemberian izin untuk mengambil bangkai-bangkai kapal termasuk kapal bersejarah. Pada peraturan menteri, ada uang yang masuk ke kas negara. Tapi setelah saya cek, tidak ada uang untuk kas negara.

Itulah kelemahan-kelemahan kami, tidak tertib administrasi. Saya kira bukan hanya itu. Banyak yang tidak tertib administrasi. Sekarang ini kami benahkan satu per satu, pelan-pelan.

Kami ingin mengonfirmasi kembali: sejauh ini belum ada investigasi oleh pemerintah soal hilangnya kapal-kapal bersejarah yang karam saat Perang Dunia II?

Belum sempat.

Mengenai kapal Belanda, mengingat ada permintaan dari Perdana Menteri Mark Rutte, apakah mereka sudah memberitahu titik lokasi kapal bersejarah di Indonesia?

Waduh saya kalau agak detail kurang ingat. Mestinya si bisa bantu, karena dia yang tahu, kan. Kalau dia beritahu dan dicari beramai-ramai [penelitian dengan Indonesia], sih, boleh-boleh saja. Tapi dia yang bayar, dong. Ngapain kami [Indonesia] yang bayar.

Apakah Indonesia memiliki data kapal-kapal bersejarah yang tenggelam ketika perang dunia II?

Mungkin punya, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu, bagaimana keakuratan data ini.

Negara Kalah Cepat dari Para Penjarah Bangkai Kapal

Dalam ingatan Nia Laelul Hasanah Ridwan menyelam di lokasi bangkai kapal perang sudah menjadi kegiatan rutin. Nia sudah menekuni dunia bawah laut sejak 2005. Ia hobi menyelam di lokasi kuburan kapal bersejarah. Hobi ini didukung pekerjaannya sebagai periset arkeologi maritim Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk Sumber Daya Laut dan Pesisir di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Namun, kegemarannya terusik ketika ia menyelam di titik lokasi kapal perang HMAS Perth. Nia melihat kondisi kapal, tempat kuburan bagi lebih dari 300 serdadu AL Australia, itu sudah tak lagi utuh. Ia melihat paku-paku tembaga yang jadi pengikat lempengan besi kapal telah raib. Perkiraannya, wujud HMAS Perth tinggal 40 persen dari bentuk aslinya.

Baca Juga : Jadwal Kapal Tidar Dan Harga tiket Kapal Pelni Tidar

“Memang sudah banyak bagian yang hilang,” ujar Nia melalui telepon, 28 Desember 2017. Ia menduga paku-paku pengikat kapal HMAS Perth itu ulah para pemburu besi tua lokal.

“Saat ke sana, kapal-kapal nelayan juga ada di lokasi itu,” katanya.

Namun, kata Nia, dugaan pemburu besi lokal sebagai pelaku pencurian hanya bagian kecil dari penjarahan kapal tersebut. Nia menilai ada “pemain besar” dengan alat tongkang cakar raksasa yang juga ikut memburu besi tua dari kapal karam bersejarah. Dugaan ini dikuatkan bertambahnya jumlah kapal bersejarah yang terdeteksi ikut dijarah di perairan Indonesia.

Dari informasi yang ia terima, ada 24 kapal bersejarah tenggelam ketika Perang Dunia II menjadi buruan para penjarah besi tua. Kapal-kapal ini tersebar di perairan Selat Sunda, Laut Jawa, hingga perairan Kepulauan Riau.

Baca juga : Jadwal Kapal Pelni Wilis Dan Harga Tiket Kapal Pelni Wilis

Dari puluhan kapal yang dirayah ini, dua di antaranya adalah HMAS Perth dan kapal Amerika Serikat USS Houston, yang tenggelam di perairan Selat Sunda pada 1942.

“Karena besi-besi itu memiliki nilai begitu tinggi,” Nia berkata.

Dari sanalah Nia mendata titik-titik lokasi keberadaan bangkai kapal bersejarah di perairan Indonesia. Dari peta koordinat yang ia berikan kepada Tirto, setidaknya ada 37 kapal karam; 24 kapal diyakini telah dijarah, sementara 13 lainnya pernah diteliti keberadaannya oleh KKP, instansi pemerintah yang kini dipimpin oleh Susi Pudjiastuti.

Prihatin atas kondisi kapal-kapal bersejarah tersebut, Nia lantas membuat fora diskusi. Ia mengundang sejumlah instansi pemerintah Provinsi Banten. Tujuan diskusi, lembaga-lembaga Pemprov Banten bisa mencegah aksi pencurian.

“Banyak yang belum paham jika ini harus dilindungi,” ujarnya. “Meskipun ini bukan kapal kita, tapi karena tenggelam di wilayah Indonesia, ini menjadi sebuah keharusan.”

Baca juga : Jadwal Kapal Pelni Bukit Siguntang Dan Harga Tiket Kapal Pelni Bukit Siguntang

Hasil diskusi memutuskan lokasi keberadaan HMAS Perth dan USS Houston diajukan sebagai cagar budaya Pemprov Banten. Hingga kini penetapan dua kuburan kapal perang dunia II ini belum juga ditetapkan.

Hal itu dibenarkan Zainab Tahir, arkeolog serta kepala koleksi barang muatan kapal tenggelam KKP. “Suratnya baru diajukan Oktober 2017 dan belum ada keputusan,” katanya, 27 September lalu.

Nia Laelul Hasanah Ridwan bukanlah orang pertama yang mengetahui pencurian bangkai kapal perang di Selat Sunda. Pada akhir 2013, penjarahan HMAS Perth sudah terendus dalam laporan ABC, yang bikin “terhenyak” publik Australia, termasuk Gavin Campbel, veteran yang selamat dari kapal tersebut.

Setiap upaya perlindungan kapal karam oleh otoritas Australia, tulis laporan ABC tersebut, “bergantung pada kerja sama dengan pemerintah Indonesia.” Orang-orang yang mengetahui kasus ini “diminta bungkam” lantaran sedang “dilakukan proses diplomatik” antara Canberra dan Jakarta.

Toh, proses diplomatik itu, sekalipun ada, justru tidak menghambat kerusakan dan penjarahan pada HMAS Perth.

Berdasarkan laporan tahun 2017 dari Australian National Maritim Museum, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menyebutkan kondisi kapal HMAS Perth kian memprihatinkan. Dari foto laporan itu, kondisi HMAS Perth tinggal 40-an persen, seperti temuan Nia saat menyelam pada 2015.

Karam di Perairan Indonesia dan Malaysia

Dalam konferensi arkeologi maritim di Adelaide, September 2017, menyebutkan 42 kapal, terdiri 26 kapal perang dan 16 kapal dagang, yang tenggelam saat Perang Dunia II telah hilang dirayah para penjarah sejak 2013.

Berdasarkan yurisdiksi teritorial, 29 kapal hilang di perairan Indonesia, sisanya di perairan Malaysia. Temuan ini bikin kaget arkeolog Indonesia, termasuk Nia Naelul Hasanah Ridwan, yang ikut menghadiri konferensi tersebut.

Menurut Nia, hasil riset itu dilakukan secara “ilegal” lantaran tak pernah meminta izin penelitian kepada pemerintah Indonesia, dan ia sempat protes atas hal itu.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Ciremai Dan Harga Tiket Kapal Pelni Ciremai

Meski begitu, informasi hilangnya kapal-kapal Perang Dunia II di perairan Indonesia sudah kadung jadi kegaduhan, terutama bagi publik Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia juga diberitakan oleh media-media Indonesia maupun internasional.

Padahal, sebelum kabar pencurian kapal perang ini jadi perhatian besar, keluarga korban perang Laut Jawa rutin menggelar tabur bunga di lokasi ketiga bangkai kapal Belanda. Penghormatan ini sudah dijalankan sejak 2012 setiap 27 Februari untuk kapal HNLMS De Ruyter, Java, dan Kortenaer.

Pada 2014, Wakil Laksamana Matthieu J.M. Borsboom, Kepala Staf AL Belanda, datang ke Indonesia untuk pertama kalinya guna memperingati pertempuran Laut Jawa. Upacara ini dilakukan di Makam Kehormatan Belanda Kembang Kuning, Surabaya. Kedatangan Borsboom disambut Kepala Staf TNI AL Laksamana Marsetio.

Namun, upaya penghormatan kepada prajurit perang ini diusik para penjarah yang diduga meremukkan dan mengangkut ketiga bangkai kapal perang Belanda tersebut.

Tahu ada dugaan penjarahan itu, Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda, merespons dengan nada mengecam.

“Fakta bahwa kuburan perang dijarah saja sudah merupakan masalah yang sangat serius, dengan implikasi jauh terhadap para penyintas dan kita semua,” kata Rutte, dikutip dari Voice of America, 22 November 2016.

“Bayangkan sebuah pemakaman perang … akan dirusak dan dinodai — hal ini benar-benar tidak dapat diterima,” kata Rutte.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Nggalupu Dan Harga Tiket Kapal Pelni Nggapulu

Zainab Tahir, arkeolog dari KKP, mengatakan perwakilan Belanda dan pemerintah Indonesia telah melakukan rapat bersama membahas hilangnya kapal Belanda. Rapat ini digelar di Jakarta pada Februari 2017. Zainab hadir dalam pertemuan itu.

KKP, kata Zainab, mendukung upaya kerja sama dengan negara-negara pemilik kapal perang bersejarah tersebut untuk melakukan perlindungan dari penjarahan. Salah satunya dengan mengupayakan titik-titik lokasi kapal karam itu dijadikan kawasan konservasi maritim.

Kalah Cepat dari Gerak Penjarah

Toh, langkah-langkah “perlindungan” itu agaknya kalah cepat dari gerak kapal penjarah.

Pada Mei 2017, muncul dugaan bahwa kapal perang Ashigara milik Jepang, yang tenggelam di perairan Muntok, Bangka Barat, juga dijarah. Kabar ini datang dari Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung ketika Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi mendatangi kantor mereka.

Saat itu di lokasi bangkai kapal perang, Balai Pelestarian Budaya Jambi menemukan kapal tongkang bercakar raksasa melakukan aktivitas ilegal. Mereka diduga sedang mengangkat bangkai kapal Ashigara. Padahal kapal ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Jambi.

Guna memastikan kondisi kapal itu, penyelam Emas Diving Club (EDC) Bangka Belitung, bersama Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, melakukan survei ke titik lokasi Ashigara. Mereka bakal menuntut penjarah untuk bertanggung jawab jika bagian-bagian Ashigara hilang.

Berdasarkan paparan konferensi arkeologi maritim di Adelaide, sedikitnya ada 22 kapal bersejarah milik Jepang yang dijarah—paling banyak dari negara lain. Delapan adalah kapal perang dan 14 adalah kapal dagang.

Dokumen yang dipaparkan dalam konferensi itu menyebut ada 11 kapal Jepang yang hilang di perairan Malaysia. Kapal-kapal itu adalah Higane Maru, Hiyori Maru, Kokusei Maru, Chosa Maru, IJN cruiser Kuma, IJN Cruiser Haguro, IJN Yurijima, Katori Maru, Hiyoshi Maru, IJN Sagiri, dan Hatsutaka.

Sementara 11 kapal lain lenyap di perairan Indonesia: IJN Itsukushima, Meigen Maru, Suiten Maru, MV Ningpo/Nippo Maru, Nippon Maru [Ningpo MV/ Nippo Maru], Biwa Maru, Myoken Maru, Riojen Maru, Hachian Maru, Koshin Maru, Genmei Maru.

Kapal selam milik Jerman, yang tenggelam di perairan Malaysia, pun turut dirayah: U-IT 23 buatan Italia dan U-859. U-IT 23 tenggelam ketika hendak keluar pelabuhan Penang dan langsung dihujani torpedo oleh kapal perang Inggris HMS Tallyho. Sementara U-859 tenggelam oleh torpedo kapal selam HMS Trenchant pada 23 September 1944.

Kapal perang Inggris pun bernasib serupa. Sepuluh kapal mereka yang tenggelam ketika Perang Dunia II juga hilang dicuri para penjarah besi tua. Beberapa kapal raib tanpa jejak, beberapa lagi diperkirakan tinggal 20 persen dan lenyap di perairan Indonesia dan Malaysia.

Kapal-kapal Inggris itu HMS Exeter, HMS Encounter (tinggal 20 persen), HMS Electra (tinggal 40 persen), HMS Repulse, HMS Prince of Wales, HMS Banka, Tien Kuang [HMS Tien Kwang], HMS Kuala, Lock Ranza, HMS Thanet, dan Hachian Maru (dua bendera: Jepang/Inggris). Dari kesepuluh kapal itu, tujuh kapal dijarah di Indonesia dan 4 kapal lain di perairan Malaysia.

Selain itu, ada kapal AS yang terjarah. Jika di Selat Sunda ada USS Houston yang rutin dikunjungi Angkatan Laut AS untuk melakukan tabur bunga, di sekitar Laut Jawa ada dua kapal perang lain. Dua kapal ini USS Perch dan USS Pope.

Menurut dokumen percakapan Kevin Denlay, penyelam yang menjelajahi kapal-kapal perang dunia II terutama di Laut Jawa sejak 2002, 80 persen bangkai kapal Pope telah habis dijarah. Adapun kapal selam Perch raib tanpa bekas. Kedua kapal ini tenggelam dalam pertempuran di Laut Jawa pada awal Maret 1942.

“Kalau penjarahan, hampir semua sebetulnya sudah dijarah,” kata Nia Laelul Hasanah Ridwan, menegaskan kembali mengenai kondisi kapal-kapal karam nan bersejarah di perairan Indonesia.

Akhir Tragis USS Houston, Kapal Kesayangan Presiden Roosevelt

tirto.id – Ketika USS Houston berada di Selat Sunda, usia John Reilly menginjak 22 tahun. Zaman sekolah di kampung halamannya, Woodbury New Jersey, ia adalah pemain bisbol yang lumayan. Beberapa bulan sebelum ia terdampar di Jawa, pangkalan Pearl Harbour diserang armada Jepang. Menurut Paul M. Possemato dalam Heroes and Teachers (2008), itulah kenapa Reilly—kelasi kapal USS Houston—dikirim ke Selat Sunda (hlm. 161).

Riwayat kapal yang diawaki Reilly ini cukup istimewa. USS Houston (CA-30), yang mulai beroperasi sejak akhir 1929, pernah berlayar di sekitar Pasifik ketika Jepang dan Cina berperang. USS Houston juga pernah menjadi kapal pesiar bagi Presiden Amerika.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Egon Dan Harga Tiket Kapal pelni Egon

Menurut catatan Public Papers of the Presidents of the United States: F.D. Roosevelt, 1934 (1938), kapal ini berangkat dari Annapolis pada 1 Juli 1934, lalu berlayar sejauh 10.000 mil. Di Pelabuhan Haiti, pada 5 Juli 1934, kapal ini singgah. “Tempat saya menginjak ke darat dan disambut hangat oleh Presiden Vincent dan kabinetnya,” tutur Roosevelt (hlm. 342).

“Ini kapal favorit Presiden Franklin Delano Roosevelt,” dalam Naval Order of the U.S.(2003: 104). Dengan kapal ini, presiden yang memimpin AS dalam salah satu kurun tersulit itu juga mengunjungi negara lain.

Sejak 1940, USS Houston—yang berstatus sebagai kapal penjelajah—dinakhodai Kapten Albert Harold Rooks (1891-1942). Pangkat kapten yang disandang Rooks setara kolonel Angkatan Laut Indonesia. Sudah puluhan tahun ia berdinas di Angkatan Laut.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Labobar Dan Harga Tiket Kapal Pelni Labobar

Semasa Perang Dunia I, ia pernah memimpin beberapa kapal perang biasa maupun kapal selam. Perang Dunia II, di front Pasifik, adalah perang besar kedua yang diikuti Rooks.

Tenggelam di Teluk Banten

Menjelang Pearl Harbour diserang oleh pasukan Kamikaze Jepang, USS Houston berada di sekitar Filipina. Kapal ini sedang dalam perjalanan dari Pulau Pinay menuju Darwin, Australia, dengan melewati Balikpapan dan Surabaya. USS Houston terlibat dalam armada laut gabungan Sekutu: American-British-Dutch-Australian-Command (ABDACOM).

USS Houston terlibat pertempuran di sekitar Laut Flores. Pesawat-pesawat tempur Jepang sempat menyerangnya hingga menara kapal hancur dan 48 orang terbunuh di kapal. Setelah pertempuran, kapal ini terus berlayar di bagian selatan Hindia Belanda. Ia makin terancam oleh armada pesawat dan kapal perang Jepang yang kian mendekat.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Bukit Raya Dan Harga Tiket Kapal Pelni Bukit Raya

Akhir Februari, Houston berlabuh di Batavia. Kapal ini berencana menuju Cilacap, sebuah pelabuhan pelarian di selatan Pulau Jawa. Pada malam 28 Februari 1942, bersama kapal Australia HMAS Perth, USS Houston melaporkan tanda bahaya dari armada Jepang, beberapa jam setelah bertolak dari Tanjung Priok.

Di Teluk Banten, menurut James Hornfischer dalam Ship of Ghosts: The Story of the USS Houston, FDR’s Legendary Lost Cruiser, and the Epic Saga of Her Survivors (2006: 109-110), kapal perusak Jepang Fabuki adalah kapal pertama yang menjangkau USS Houston dan HMAS Perth. Dua kapal penjelajah itu berusaha keras menghindari sembilan torpedo yang dimuntahkan Fabuki.

“Kapal kami lanjut bertempur sampai pukul 12.15 tengah malam 1 Maret (1942). Kami juga terkena empat torpedo dan tembakan senjata sebelum (kapal) kami tenggelam,” tulis Jack Feliz dalam The Saga of Sailor Jack (2001: 38).

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Binaiya Dan Harga Tiket Kapal Pelni Binaiya

Akhirnya, USS Houston bernasib sama dengan HMAS Perth: tenggelam.

Kapten Rooks termasuk yang terbunuh dalam pertempuran itu. Para awak kapal yang tersisa pun mau tidak mau harus berenang. Di antara yang berenang itu adalah John Reilly. Ia berjuang mencapai daratan Jawa. Kala itu, Jawa masih belum dikuasai Jepang sehingga masih bisa menjadi harapan mereka untuk selamat. Dan jika datang perintah, mereka dapat berperang lagi.

Dalam kisah tenggelamnya USS Houston, George S. Rentz, seorang pendeta, menunjukkan heroismenya. Ia ikut membawa orang-orang yang selamat sambil menyanyikan lagu dan doa.

“Rentz diam-diam meletakkan jaket pelampung di dekat pelaut yang terluka, dan menghilang di bawah ombak,” tulis Absolute Victory: America’s Greatest Generation and Their World War II Triumph (2005: 206) yang diterbitkan majalah Time.

Heroisme Renzt belakangan membuatnya diganjar Navy Cross secara anumerta. Sedangkan Rooks dianugerahi Medal of Honour.

Sementara para awak kapal yang selamat dan mencapai Jawa menjadi saksi runtuhnya Hindia Belanda, bahkan harus menerima nasib buruk sebagai tawanan Jepang, termasuk John Reilly.

Menurut Paul M. Possemato, Reilly adalah tawanan perang yang dikirim ke Burma untuk membangun rel kereta api, dikenal sebagai rel maut. Zaman pendudukan Jepang adalah masa-masa sengsara bagi orang-orang Barat non-Jerman di Asia.

Meski kehilangan ratusan pelaut dan marinir di USS Houston, Angkatan Laut AS sudah punya 1.000 rekrutan baru—yang dikenal Houston Volunteers—sebelum 30 Mei 1942.

Sebuah kapal penjelajah baru juga sudah disiapkan. Setelah 1942, Amerika setidaknya punya kapal penjelajah ringan USS Houston (CL-81) dan kapal selam USS Houston (SSN-713).

Daftar Korban Kapal KM Lestari Maju, 29 Penumpang Tewas, 41 Hilang

tirto.id – Kapal penyeberangan KM Lestari Maju mengalami kecelakaan di perairan Selayar Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Selasa (3/7/2018) pukul 14.30 WITA. Hingga Rabu (4/7/2018) pukul 01.54 WIB, total korban yang meninggal berjumlah 29 orang.

Berdasarkan siaran pers dari Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho ada sekitar 139 penumpang dan 48 kendaraan di kapal KM Lestari Maju yang sedang dalam proses evakuasi.

Baca juga : Jadwal Kapal Pelni Awu Dan Harga Tiket Kapal Pelni Awu

“Terdapat 69 penumpang yang selamat, 34 orang di antaranya telah mendapat perawatan di rumah sakit. Sementara itu, korban yang masih dicari sejumlah 41 orang dan yang meninggal 29 orang,” ujar Sutopo.

Kapal KM. Lestari Maju tersebut terindikasi kemasukan air saat sedang berlayar menuju Kabupaten Selayar akibat cuaca buruk.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Terbaru 2019 Dan Harga Tiket kapal Pelni 2019

Sutopo menjelaskan, pencarian masih terus dilakukan. Tidak semua penumpang memperoleh jaket pelampung. Evakuasi masih dilanjutkan dipimpin Basarnas dibantu BPBD, TNI, Polri, Kemenhub, SKPD, relawan dan masyarakat.

“Kendala evakuasi adalah cuaca hujan, angin kencang, gelombang tinggi. Sehingga sampai dengan kemarin kapal besar tidak dapat mendekati KMP Lestari Maju,” ujarnya.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Dobonsolo Dan Harga Tiket Kapal Pelni Dobonsolo

Berikut daftar nama korban meninggal dunia penumpang KMP Lestari Maju:

1. Hari Laksono, alamat Jl. Jeruk (ASDP Pamatata)
2. Drs. Rurung, umur 51 tahun, alamat Jl. Mangga Benteng (suami)
3. Hj. Marlia, umur 44 tahun, alamat Jl. Mangga Benteng (istri)
4. Hj. Amawati, umur 43 tahun, alamat Desa Laiyolo Kec. Bontosikuyu.
5. Sitti Saerah, umur 58 tahun, alamat Desa Onto Kec. Bontomatene.
6. H. Abd. Rasyid, alamat Jl. Jend. Ahmad Yani Benteng
7. Rini Nurianti, umur 29, alamat Bonea Kec. Benteng Kep. Selayar.
8. Abizar, umur 2 tahun, alamat Bonea (anak Rini Nurianti)
9. Rosmiati, umur 40 tahun, alamat Jl. Manga Benteng
10. Demma Ganrang, umur 45 tahun, alamat Kalaroi Kec. Bontomatene
11. Andi Le’leng, umur 47 tahun, alamat Baringan Kec. Bontosikuyu
12. Syamsuddin, umur 50 tahun, alamat Jl. Pierre Tendean Benteng
13. Hensi, umur 64 tahun, alamat Baringan Kec. Bontosikuyu (suami)
14. Ati Mala, umur 58 tahun, alamat Baringan Kec. Bontosikuyu

15. Denniamang, umur 74 tahun, alamat Lambongan Kec. Bontomatene
16. Marwani, umur 46 tahun, alamat Sappang Herlang Singa
17. Hj. Salmiah, umur 55 tahun, alamat Kab. Sinjai.
18. A. Abd. Rasyid, umur 42 umur, alamat Jl. Pahlawan benteng selayar (asal banyorang KEC. Tompo bulu Kab. bantaeng)
19. Suryana, umur 55 tahun, alamat Bonehalang Kec. Benteng.
20. Dempa, umur 50 tahun, alamat Kalaroi Kec. Bontomatene
21. Nurlia, umur 64 tahun, alamat Batangmata sapo Kec. Bontomatene
22. Andi Junaeda, umur 70 tahun, alamat Bone
23. Norma, umur 50 tahun, alamat Benteng Somba Opu.
24. Ningsih, umur, alamat Cinimabela ( Takalar / Galesong)
25. Haidir, umur 2 tahun, alamat Cinimabela ( Takalar / Galesong) (anak dari Ningsih)
26. Kartini, umur 60 tahun, alamat cinimabela desa parak Kec. Bontomanai selayar
27. Siti baedah, umur 55 tahun, alamat desa baraklambongan Kec. Bonto matene selayar
28. Jumbrah, alamat 50 tahun, pekerjaan barugayya Kec. Bontomanai selayar
29. Mayat perempuan usia 50-60 tahun tanpa identitas.

Berikut korban selamat dan mendapatkan perawatan di rumah sakit KH. Hayyung :

1. Edi S, umur 36 tahun, alamat Makassar.
2. Dg. Pabeta, umur 55 tahun, alamat Gusung Kec. Bontoharu Kep. Selayar
3. Ardianto Setiawan, umur 23 tahun Jl. AP. Pertarani Benteng Selayar
4. Moh. Kholik Maulana, umur 19 tahun, alamat Jember
5. Andi Ahmad, umur 44 tahun, alamat Jl. Jend. Ahmad Yani Benteng
6. dr. Misna, umur 41 tahun, alamat Jl. Ahmad Yani Benteng
7. Ilham, umur 36 tahun, alamat Makassar
8. Nurdiansyah, umur 36 tahun, alamat Jl. Siswomiharjo Benteng
9. Rahmatia, umur 35 tahun, alamat Padang Oge Kec. Bontoharu
10. Muh. Ansar, umur 18 tahun, alamat Jl. S. Parman Benteng
11. Agus Salim, umuar 56 tahun, alamat Jl. S. Parman Benteng
12. Baho Intang, alamat Tajuiya Kec. Bontomatene
13. Muh. Takdir, umur 40 tahun, alamat Dusun Boneapara
14. Patta Intang, alamat Tajuiya Bontomatene
15. Rani Fitriani, umur 8 tahun, alamat Pariangan Kec. Bontosikuyu
16. Fitriani, umur 32 tahun, alamat Pariangan Kec. Bontosikuyu
17. Muh. Rusli, umur 35 tahun, alamat Pariangan Kec. Bontosikuyu.
18. Hj. Saripati, umur 65 tahun, alamat Jl. Hamang DM Benteng
19. Abdul Haris, umur 37 tahun, alamat Sungguminasa Gowa
20. Nur Inayah Haris, umur 8 tahun, alamat Sungguminasa Gowa.
21. Sitti Hadija, umur 33 tahun, alamat Teko Kec. Bontomanai
22. Demma Lili, umur 43 tahun, alamatTeko Kec. Bontomanai
23. Jumriati, umur 48 tahun, alamat Takalar.
24. Muhammading, umur 60 tahun, alamat Tile-tile Kec. Bontosikuyu
25. Minara, umur 44 tahun, alamat Balang Butung Kec. Buki.
26. Jumniati, umur 28 tahun, alamat Jl. Aroeppala Benteng
27. Mardianto, umur 35 tahun, alamat Jl. Massa Benteng
28. Beti Manokallo, umur 35 tahun, alamat Jl. Massae Benteng
29. Hj. Sitti Rahma, umur 50 tahun, alamat BTN Rensi Bontoharu
30. Ramlah, umur 31 tahun, alamat Jl. Yos Sudarso benteng selayar
31. Mursalim ST, umur 46 tahun, alamat Jl. Sultan Hasanuddin Makassar
32. Darmawati, umur 30 tahun, alamat Jl. Veteran Benteng selayar
33. Sabir, umur 41 tahun, alamat Kab. Gowa
34. Juliadi, umur 30 tahun, alamat Kab. Takalar.

Misteri Raibnya Bangkai Kapal Perang Belanda di Laut Jawa

tirto.id – Tahun lalu, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Belanda mengadakan peringatan 75 tahun pertempuran Laut Jawa. Yayasan Karel Doorman dari Belanda meminta izin kepada otoritas Indonesia untuk menengok bangkai kapal perang mereka yang karam di perairan Indonesia setahun sebelum peringatan digelar. Namun, karena izin survei tak kunjung diberikan, Yayasan tetap nekat melakukannya lewat bantuan pihak swasta, November 2016.

Tugas penyelam mengamati kondisi dua kapal perang Belanda, HNLMS Java dan HNLMS De Ruyter, yang karam tahun 1942 di dekat Pulau Bawean.

Kedalaman laut di daerah ini lebih dari 70 meter. Semakin dalam semakin buram, dan jarak pandang kian pendek. Untuk mengetahui keadaan kapal, para penyelam harus turun ke dasar laut. Namun, penyelam mendapati bangkai kapal yang dicarinya itu raib. Salah seorang penyelam, Pete Maisley, tertegun tak percaya.

Baca Juga : Jadwal Kapal Tidar Dan Harga Tiket Kapal Tidar

Muncul pertanyaan dalam benaknya: Apakah ia benar-benar sudah berada di titik koordinat yang tepat?

Ketika dasar laut terlihat, Maisley sadar ia tak terbawa arus bawah laut. Ia juga yakin berada di lokasi yang benar. Tapi ia masih sulit percaya bahwa bangkai dua kapal itu benar-benar telah lenyap.

Semestinya ia bisa melihat sebuah kapal perang penjelajah De Ruyter seberat 6.650 ton, lengkap dengan turet menara setinggi 20 meter, dan geladak yang dapat dijadikan landasan mini buat menerbangkan dua pesawat amfibi.

Baca Juga : Harga Tiket Kapal Medan Dan Jadwal Kapal Medan

Maisley hanya melihat cerukan di dasar laut, menandakan bahwa dulu di sana pernah ada bangkai kapal raksasa.

“Tidak ada kerangka yang tersisa,” katanya seraya menarik napas.

Adegan ini tergambar dalam dokumenter “Slag in de Javazee” (“Pertempuran di Laut Jawa”).

Pada saat kapal komersial seringkali dirancang seringan mungkin, kapal perang dibangun dengan susah payah: armor yang tebal dan meriam berukuran besar, yang diongkosi negara. Ketangguhan badan kapal lebih penting ketimbang hidrodinamika.

Dalam beberapa kasus, arus bawah laut sering kali menyeret puing-puing kapal karam. Tapi ini adalah kapal perang. Dengan kualitas baja kelas wahid melilit seluruh lambung kapal, sulit membayangkan bangkai kapal sebesar itu bergeser demikian jauh.

Arus bawah laut memang tak bisa memindahkannya, tetapi teknologi bisa.

Semula Tudingan Mengarah ke Penyelam Madura

Saat kasus ini mencuat, dugaan penjarah mengarah ke orang Madura. Maklum, stigma pengusaha besi loak melekat pada mereka. Pertanyaannya: dengan cara apaorang Madura bisa menjarah kapal-kapal perang, dan tanpa meninggalkan jejak?

Baca Juga : Jadwal Kapal Binaiya Dan Harta Tiket Kapal Pelni Binaiya

Mari kita bayangkan: Kapal De Ruyter dan Java masing-masing sepanjang 171 meter dan 155 meter. Lebar keduanya 16 meter. Dengan dimensi serumit dan sekompleks itu hanya penyelam berkekuatan super mampu melakukannya.

Basrawi, yang “sudah belasan tahun” berpengalaman merayah bangkai kapal, mengatakan mustahil penyelam tradisional melenyapkan bobot kapal segede itu di dasar laut.

Ia tersengat ketika dituding menjarah kapal perang Belanda. “Hei, seenaknya saja Anda main tuduh-tuduh,” ujarnya ketus saat saya menjumpainya di Bangkalan, awal November 2017.

Pembelaan Basrawi masuk akal. Memang apa yang bisa diharapkan dari gergaji, kikir, dan selang kompresor? Dengan alat tradisional ini mungkin butuh waktu puluhan tahun untuk melenyapkan dua kapal Belanda.

Lagi pula, kata Basrawi, De Ruyter dan Java ada di kedalaman yang “sulit dijangkau” penyelam lokal. Kemampuan para penyelam paling banter sedalam 30-40 meter, sementara kapal Belanda karam pada kedalaman 60 meter.

“Kalau 40 meter itu sudah nekat, apalagi 60 meter. Menyelam 40 meter itu pun megap-megap, enggak bisa lama di dalam air. Harus segera naik,” ucap Basrawi, yang biasa beroperasi di sekitar perairan Madura dan Gresik, Jawa Timur.

Semakin dalam, air semakin dingin. Tanpa pakaian khusus, penyelam sering terserang keram parah menusuk tulang. “Kalau sudah begitu, ya, wassalam. Banyak yang mati gara-gara ini,” ujarnya, menyeringai.

Tapi bagi mereka, alasan mistik lebih bikin gentar ketimbang perhitungan ilmiah. Ada semacam aturan tak tertulis untuk tak mengutil bangkai kapal lawas. Semakin usia kapal itu tua, bagi mereka, semakin banyak dedemitnya. “Apalagi kapal perang,” tambah Basrawi.

“Tapi, ya, tetap saja ada yang nekat. Tapi tak banyak,” katanya, lagi.

Dugaan Pelaku: Tongkang Bercakar Pioner 88

Basrawi berkata ia tahu siapa pelaku penjarahan dua kapal Belanda tersebut. Ia mau bicara blakblakan karena lahan pencahariannya mulai tergerus. Dari pengakuan Basrawi, terungkaplah ternyata tidak butuh kesaktian atau keajaiban untuk menjarah kapal perang raksasa. Yang dibutuhkan hanya satu: kecanggihan teknologi.

Saat hilir mudik di perairan Laut Jawa, seringkali ia melihat tongkang yang berhari-hari melempar jangkar di atas bangkai kapal. Di atas tongkang itu terdapat mesin crawler crane berukuran besar. Tongkang jenis ini lazim disebut tongkang bercakar atau grab dredger.

Basrawi berkata nama tongkang tersebut: Pioner 88.

Kementerian Perhubungan mendata Pioner 88 dimiliki oleh PT Jatim Perkasa. Dalam situs resminya, PT Jatim Perkasa mendaku sebagai perusahaan yang ahli dalam bidang salvage (kegiatan bawah air).

“Kami memiliki barge crane yang sanggup bekerja cepat dan mampu mengangkat kerangka pada kedalaman kurang lebih 200 meter dengan daya angkat ± 500 ton,” tulis profil perusahaan.

Dari sumber informasi di lapangan, Pioner 88 sering bersandar di Pelabuhan Brondong, Lamongan, saat muatan kapal sudah penuh.

“Yang paling menarik adalah lokasi yang kami temukan dekat Surabaya,” ujar Kick Stokvis, videomaker dari Belanda yang terlibat dalam penyelidikan kasus penjarahan kapal perang pada 2016.

PT Jatim Perkasa menyebut pembongkaran dan penumpukan kerangka kapal memang terpusat di Brondong. Data pencitraan dari Google Earth membuktikan itu. Perusahaan ini beroperasi sejak pertengahan 2014 hingga 2017.

Bulan November 2017, saya menyambangi lokasi ini, mencari bukti-bukti keberadaan kerangka kapal perang Belanda. Selaras pencitraan Google Earth, saat datang ke Brondong, PT Jatim Perkasa sudah tak lagi beroperasi di sana.

Cara Kerja Pioner 88

PT Jatim Perkasa adalah bagian dari gelombang disrupsi bisnis bawah air di Jawa timur. Sejak beroperasi pada awal 2014, ia telah menggerus dua lini usaha konvensional: perusahaan salvage skala kecil dan penjarah besi tua asal Madura.

“Pakai tumbuk. Kapal di dasar laut hancur, dan diangkat pakai crane. Ditaruh ke tongkang,” kata Kaliman, pengusaha salvage skala kecil di Surabaya, saat ditemui di Pulo Gadung, Jakarta Timur, akhir tahun lalu.

Kariman berkata soal metode lazim yang ia pakai: mengapungkan bangkai kapal dengan balon atau memotongnya di bawah air, lalu mengangkatnya secara perlahan dengan crane.

“Biayanya tidak terlalu mahal, tetapi lama,” katanya.

Sekarang, katanya, pengusaha seperti dirinya tinggal “belasan”. Data Kementerian Perhubungan menyebut ada 263 perusahaan salvage yang terdaftar di institusi tersebut.

“Banyak cuma PT, tapi operasi tidak,” kata Kaliman.

Karno, bukan nama sebenarnya, yang bekerja di PT Jatim Perkasa sebagai pemotong bangkai kapal, mengatakan kepada reporter Tirto bahwa ia pernah berbincang dengan seorang ABK Pioner 88. Si anak buah kapal itu menceritakan bagaimana Pioner 88 bekerja.

“Setelah koordinat didapatkan dan lokasi ditemukan, Pioner memakai sonar. Jadi tidak ada yang menyelam ke dasar laut,” ujarnya.

“Itu sebabnya kapal ini bisa angkat bangkai kapal dengan kedalaman hingga ratusan meter,” ucapnya, lagi.

Cara kerjanya: mesin crawler crane Pioner 88 menggerakkan bandul pada ujung kawat baja yang berbentuk lancip seperti cakar kucing. Cakar dengan enam ruas capit ini bisa meremukkan konstruksi kapal. Cakar bisa diatur merenggang dan mengapit seperti mesin boneka di taman hiburan.

Bandul itu dikatrol lewat kawat baja yang terhubung mesin crane di geladak kapal. Saat tongkang sudah tepat di atas titik koordinat bangkai kapal, bandul yang beratnya mencapai 50 ton itu dilesatkan ke dasar laut, seketika menumbuk dan meremukkan kapal karam. Proses ini diulangi terus-menerus hingga bentuk kapal jadi serpihan-serpihan, dan setelahnya barulah diambil secara perlahan dengan cara mencapit ke atas tongkang.

Kaliman berkata teknologi ini relatif baru di Indonesia. Karena itu perusahaan salvagemembayar mahal untuk menyewa kapal tongkang bercakar. “Biaya sekali beroperasi bisa milyaran,” katanya.

Pada 19 November lalu, saya mengunjungi pelabuhan Klotok, Gresik. Di dekat dermaga teronggok tiga perahu yang biasa dipakai para pengutil untuk memereteli bangkai kapal di sekitar Laut Jawa. Namun, sejak 2016, perahu ini tak pernah dipakai.

“Mau ambil apa? Bangkai kapal-kapal sudah habis,” keluh Zainal, warga setempat.

Sesekali pengutil ini menguntit Pioner 88 dan memantaunya dari kejauhan. Mereka akan memunguti remah-remah besi dan baja dari aktivitas Pioner 88.

Ada kalanya penyelam tradisional di sekitar Klotok dimanfaatkan PT Jatim Perkasa. Saeful, bukan nama sebenarnya, sekali waktu mengumpulkan koordinat bangkai kapal dari nelayan. Koordinat ini bertebaran, dari perairan Lamongan, Bawean, Banyuwangi, sampai Jawa Tengah.

Ia berkata koordinat itu diserahkan kepada Haji Mashudi. “Ada sekitar 17 titik,” katanya.

Di Gresik, Haji Mashudi cukup populer sebagai pengusaha besi bekas. Saat dihubungi reporter Tirto, 11 Januari lalu, ia membenarkan bahwa ia memberikan koordinat kepada PT Jatim Perkasa.

“Kebetulan saya punya banyak kenalan nelayan yang ngasih koordinat bangkai kapal. Jadi mereka ngasih informasi ke saya. Daripada ganggu jaring nelayan, ya, saya ambil,” tuturnya.

Mashudi menyebut di antara koordinat kapal karam yang dia berikan ke PT Jatim Perkasa adalah “kapal perang”.

“Kapal perang di antara Lamongan dan Bawean,” tambah dia.

Penemuan Bom di Pelabuhan Brondong

Pada 7 November 2014, ditemukan amunisi dan bom berskala besar di area operasi PT Jatim Perkasa di Pelabuhan Brondong. Butuh lebih dari lima orang dewasamemindahkan bom berdaya ledak besar tersebut. Temuan puluhan mortir ini kemudian dibawa oleh personel Koramil setempat lalu diledakkan tim Gegana dari Polda Jatim di hutan Sedayulawas pada esok hari.

Pada 23 Juli 2015, ledakan kembali terdengar di Brondong. Seorang pekerja bernama Imron terluka. Sebagian tangan dan punggungnya melepuh. Satu media televisi lokal mengabarkan pemicu ledakan bermula ketika Imron hendak memotong besi dan membakar sampah, lalu tabung oksigen di sekitarnya bocor dan meledak. Tapi bukan itu yang sesungguhnya terjadi.

Pertengahan November tahun lalu, saya menjumpai dua orang berpengaruh di Desa Sedayulawas: Haji Muslihan dan Haji Abdul Ghoni. Kedua orang ini dipercaya PT Jatim Perkasa sebagai bos lokal. Mereka punya peran sama, yakni mencari pekerja lokal sebagai tenaga operasional untuk memotong besi dari serpihan-serpihan bangkai kapal yang diangkut PT Jatim Perkasa.

Di bagian pemotongan besi ada sekitar 50 pekerja termasuk satpam dan kuli angkut. Kerja mereka diawasi empat orang warga negara asing dari Cina. Sementara pekerja untuk kapal keruk Pioner 88 ada 15 ABK: lima WNI dan 10 WNA dari Cina.

Sistem kerjanya: setelah besi bangkai kapal diangkat Pioner 88 dari dasar laut, besi itu lalu dicacah lebih kecil agar muat dinaikkan ke truk. Imron adalah salah satu pekerja yang memotong besi-besi itu.

Kepada saya, Haji Muslihan membenarkan ia sering menemukan bom di Brondong. “Seringkali kami dapati peluru besar-besar dan itu pernah meletus. Ada orang yang sempat luka, si Imron itu anak buah saya. Dia bakar-bakar sampah, dan di bawahnya ada bom,” katanya.

Pengakuan sama diungkapkan Susanto—bukan nama sebenarnya. Pria asal Semarang ini telah bekerja kurang lebih tiga tahun di PT Jatim Perkasa sebagai pemotong besi. Menurutnya, apa yang menimpa Imron bukan oleh bom tapi rudal. “Mesiu (dalam rudal) bereaksi kena api, lalu melesat dan membentur kontainer. Untungnya tidak meledak,” katanya.

Penemuan bom di pelabuhan Brondong “bukan hal aneh,” kata Susanto. Dua puluh satu bom yang dibawa Koramil dan diledakkan di hutan, katanya, ”tidak ada apa-apanya” dibandingkan penemuan lain. Kata Susanto, sebetulnya masih ada lagi bom yang diameternya “sebesar botol galon air minum”.

“Jumlahnya ada puluhan. Namun ini tidak terekspos ke media. Saat Pioner 88 itu bersandar dan membawa barang dari laut, pasti pulang bawa bom,” ujarnya.

Pengakuan sama dikatakan Andi, rekan kerja Susanto sebagai pemotong besi, “Jenis bom mungkin banyak di sana, setiap kali korek pasti ada bom. Amunisi peluru juga banyak.”

Alih-alih melapor otoritas keamanan setempat, kerap kali perusahaan memilih membuang bom tersebut. Bom biasanya dikubur dulu, lalu dibawa oleh Pioner 88 ke tengah laut selagi kapal bercakar ini hendak beroperasi lagi.

“Tapi si pemilik perusahaan, orang Cina ini, tidak mau bilang ke Koramil karena takut akan keluar uang lagi,” kelakar Andi.

Klaim ini sejalan pengakuan Haji Abdul Ghoni: “Kalau ada peluru dan rudal oleh saya disisihkan lalu minta pekerja untuk membuang material itu ke laut. Daripada buat masalah.”

Jadi, mustahil jika peledak ini didapatkan dari kapal komersial. Haji Abdul Ghoni memberikan pengakuan: “Kebetulan, kapal yang diangkat itu macam-macam: ada yang kargo, ada juga yang kapal perang. Nah, kapal perang itu terangkat dan masih ada amunisinya.”

Pernyataan ini seiris ucapan Haji Muslihan, “Material yang diambil memang besi-besi tebal. Kadang bekas kapal dagang, kadang pula kapal perang.”

Namun, Chris Wanda, salah seorang petinggi PT Jatim Perkasa, membantah perusahaan mengambil bangkai kapal perang. Lagi pula, katanya, saat Pioner 88 beroperasi diawasi Kementerian Perhubungan setempat.

“PT punya izin lengkap. Semua pengawasan jelas, semua berita acara jelas,” ujar Chris. “Kita enggak mungkin kerja tanpa survei dan izin.”

Real Madrid vs Villarreal, Solari Puji Penampilan Isco

Jakarta Kehadiran Isco memang tidak mampu mempertahankan keunggulan Real Madrid atas Villarreal pada lanjutan La Liga, Jumat dini hari WIB (4/1/2019). Meski demikian, pelatih Los Blancos, Santiago Solari tetap memuji penampilan pemain bernomor punggung 22 tersebut.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pelni Terbaru

Bertanding di Estadio de la Cerámica, Real Madrid memang sempat dikejutkan gol cepat Santi Cazorla pada menit ke-4. Namun Los Blancos segera membalasnya tiga menit kemudian lewat Karim Benzema. Bahkan, Real Madrid berbalik unggul setelah R Varane kembali menjebol gawang tuan rumah menit ke-20 dan memimpin babak pertama 2-1.

Di babak kedua, Isco masuk menggantikan Gareth Bale. Pemain asal Wales itu terpaksa ditarik ke luar setelah mengalami benturan dengan pemain lawan pada babak pertama.

Baca Juga : Jadwal Kapal Binaiya

Menurut Solari, tanpa Bale, pasukannya sulit mempertahankan keunggulan. Serangan balik yang menjadi senjata Los Blancos dalam duel ini melempem setelah Gareth Bale keluar. Villarreal pun berhasil menyamakan kedudukan lewat tandukan keras Cazorla menit 83.

Solari mengakui hal ini. (Simak berita lengkapnya di sini). Namun Solari juga tidak melupakan peran Isco. Menurutnya, Isco juga tampil memukau sepanjang babak kedua.

“Isco sangat baik,” kata Solari seperti dilansir Marca.

Baca Juga : Jadwal Kapal Dorolonda

“Saya senang dengan penampilannya karena dia luar biasa di babak kedua,” katanya.

Hilang Kontrol?

Selain Bale, Real Madrid juga harus kehilangan Luka Modric di babak kedua. Dia ditarik menit ke-64 dan digantikan Federico Valverde. Menurut Solari, Modric baru sembuh dari flu.

Meski demikian, Solari membantah tanpa Modric Real Madrid kehilangan ritme permainan.

Baca Juga : Jadwal Kapal Laut Terbaru

“Saya pikir bukan karena kurang kontrol. Tapi ini disebabkan oleh kasus yang tidak menyebabkan kerusakan,” beber pelatih asal Argentina tersebut.

Teroris Poso Kembali Tebar Teror

Jakarta – Dua setengah tahun berlalu usai kematian gembong teroris Poso, Abu Wardah alias Santoso, ternyata sisa kelompoknya masih eksis. Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso itu kini di bawah pimpinan Ali Kalora.

Baca Juga : Jadwal Kapal Pangrango

Di penghujung tahun 2018, para teroris Poso itu berulah dengan memutilasi seorang warga di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng). Perbuatan keji itu diduga untuk memancing kehadiran aparat kepolisian dan menembakinya.

Polisi telah mengetahui kekuatan yang dimiliki kelompok teroris Ali Kalora itu. Satuan Tugas (Satgas) Tinombala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah atau Polda Sulteng memburu kelompok tersebut di kawasan hutan dan perbukitan wilayah Parigi Moutong dan Poso.

Baca Juga : Jadwal Kapal Sinabung

Bagaimana kronologi penyerangan teroris Poso di penghujung tahun tersebut? Bagaimana pula prediksi kekuatan mereka? Simak Infografis berikut ini:

Infografis

Pemda Lampung Siapkan 2 Hektare Lahan Relokasi Rumah Korban Tsunami

Lampung – Sedikitnya 664 rumah rusak akibat bencana tsunami yang melanda Kecamatan Rajabasa dan Kalianda, Lampung Selatan. Pemda setempat berencana akan merelokasi warga ke lahan baru.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Jumat (4/1/2019), Dinas Perumahan dan Permukiman Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kini telah menyiapkan 2 hektare lahan untuk didirikan 140 rumah bagi relokasi korban tsunami secara gratis.

Baca Juga : Jadwal Kapal Ciremai

Sementara itu, lokasi permukiman yang berada di tepi pantai yang terkena dampak tsunami akan dijadikan tempat wisata karena memiliki potensi dan pemandangan laut yang indah.

“Kita akan adakan pengukuran untuk menindaklanjuti rencana pembangunan relokasi tersebut,” kata Kepala Dinas Permukiman Lampung Selatan Burhanudin.

Sementara itu, geliat perekonomian warga pascatsunami di Kecamatan Rajabasa mulai kembali pulih. Sejumlah toko dan warung penyedia sembako yang terletak di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, sudah mulai buka. Meski demikian, belum banyak warga yang berbelanja karena sebagian besar masih berada di pengungsian.

Baca Juga : Jadwal Kapal Sirimau

Selain itu, Tim SAR dan personel TNI mulai membantu memperbaiki rumah warga korban tsunami yang rusak. Warga korban tsunami berusaha menyelamatkan bagian bangunan rumah yang masih bisa dipakai.

“Kita di sini sesuai dengan imbauan dari pemda itu sampai hari Sabtu,” ucap Koramil 03 Marga III Lampung Timur Kapten Infantri Syamsudin.

Proses normalisasi di kawasan ini menggunakan alat berat yang dilanjutkan dengan penanganan secara manual oleh Tim SAR dan TNI. (Muhammad Gustirha Yunas)

Baca Juga : Jadwal Kapal Tidar