Tahukah Anda Baekhyun EXO Ternyata Suka Hapus Makeup meski Belum Selesai Manggung

Tidak banyak yang mengerti bila Baekhyun EXO nyatanya senang meniadakan makeupnya, mendekati akhir pertunjukkan. Kesukaannya ini juga sudah membuat beberapa orang tahu ketidaksamaan mukanya waktu menggunakan serta sesudah meniadakan riasan.

Artikel Lainnya:

Buat seseorang idol pria di Korea, make up jadi satu perihal yang harus serta tidak dapat dipisahkan dari tampilan mereka diatas panggung. Tidak cuma membuat muka tampak lebih fresh, make up pun memberi dukungan ciri-ciri mereka waktu membawakan satu lagu.

Hal tersebut juga demikian tampak di diri Baekhyun EXO, dimana tampilan tampak demikian berlainan waktu memakai make up. Walau demikian, main vokal group EXO ini tidak sungkan untuk tunjukkan mukanya tiada make up waktu ada diatas panggung.

Atas pilihannya itu, Baekhyun EXO juga sering mendapatkan pujian serta masih di cintai penggemarnya walau tampil apa yang ada tiada make up. Waktu tiada make up, Baekhyun memang tampak begitu berlainan, serta berikut bedanya.

Tahukah Anda Keunikan Artika Sari Devi Menurun pada Sang Buah Hati

Siapa yang menduga bila dibalik mukanya yang cantik, nyatanya Artika Sari Devi memiliki potensi yang unik. Pasalnya wanita kelahiran 29 September 1979 ini miliki potensi untuk lihat makhluk yang tidak kasat mata.

Waktu melakukan proses syuting film Kesepakatan dengan Iblis di Tanjung Lesung, Banten. Istri dari Baim ini sudah sempat lihat figur penampakan makhluk tidak kasat mata di seputar tempat syuting.

“Saya itu orangnya peka, dalam kondisi spesifik saya dapat lihat (makhluk halus). Ya ada sich waktu kita di pulau saya lihat mereka turut tonton, tetapi mereka tidak mengganggu,” papar Artika saat didapati di lokasi Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2019).

Baca juga:

Menurut Artika sekarang ini dianya tidaklah terlalu peka dengan kehadiran makhluk halus yang ada di sekelilingnya. Saat makhluk halus itu tidak menganggunya, dia akan menanggapinya dengan enjoy.

“Saat ini sich saya sudah tidak sangat peka, itu waktu keci. Ya saat tidak mengganggu, ya umumnya hanya lihat saja sich. Tetapi tidak sampai gimana-gimana,” tuturnya.

Siapa yang menduga bila potensi Artika Sari Devi lihat makhluk halus alami penurunan ke buah hatinya, Dayana Zoeli Ibrahim. “Saat ini justru nurun ke anak saya, Zoelie. Dia seperti ngomong sendiri jika kita tengah makan bareng, tetapi anggep ya mungkin ia kembali berimajinasi,” tuturnya.

Tahukah Anda Catherine Wilson Kurangi Berat Badan Demi Tampil Aduhai di Fashion Show

Nama Catherine Wilson telah tidak asing kembali dalam dunia modelling. Bahkan juga wanita kelahiran 25 Februari itu turut masuk dalam agency mode terkenal, Look Models Indonesia.

Menjadi seseorang mode profesional, Catherine juga dituntut mempunyai badan yang ramping serta bugar. Lihat badan yang sekarang makin jadi membesar, wanita yang biasa di panggil Keket itu juga sekarang melakukan diet.

“Dateng di acara fashion show, aduh kangen ya fashion show juga. Tetapi tubuh cukup mengganggu, jadi saat ini rajin berolahraga serta diet sich,” papar Cathrine Wilson waktu didapati di lokasi Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/1/2019).

Sebetulnya menurut pemain Lagi-Lagi Ateng itu, dia tidak butuh banyak kurangi berat badannya untuk tampil optimal. Walau demikian dia menjelaskan jika turunkan berat tubuh yang dikit pun bukan satu perihal yang gampang untuk dikerjakan.

“Mungkin tinggal 4-5 kilo kembali lah. Baiknya begitu lah turun 4 kilo kembali,” tutur Cathrine Wilson.

Simak Artikel Lainnya:

Untuk wujudkan mimpinya supaya bisa kembalikan badan yang aduhai itu, Cathrine Wilson pilih untuk ganti nasi biasa jadi nasi merah. Tidak lupa dia pun melakukan berolahraga lebih giat dari mulanya.

“Lebih rajin berolahraga, kurangin nasi ya, mungkin ditukar jika kembali kepengen makan nasinya ditukar nasi merah. awal mulanya bablas makan apakah saja. Lebih nikmat hidup yang saat ini, yang tentu agar lebih sehat saja. sudah berapakah bulan? sudah cukup beberapa waktu paling akhir. Olahraganya ngegym sich,” katanya.

Simak Yuk Selalu Tampil Kompak, Prilly Latuconsina – Maxime Bouttier Geli Sendiri Saat Foto Romantis

Prilly Latuconsina serta Maxime Bouttier diketahui menjadi pasangan selebriti Indonesia yang tetap tampil kompak serta cocok dalam setip peluang. Akan tetapi siapa yang menduga bila kedua-duanya cukup kesulitan bila diminta pose romantis. Hal itu tersingkap pada suatu posting photo yang berada di account Instagram punya Prilly.

Meskipun merajut jalinan asmara, namun bukan perihal yang gampang buat Prilly serta Maxime untuk berpose mesra. “Narasi dibalik photo ini. Photographer : Prilly Maxime photo romantis ya berdua. Saya : duh photo romantis tuch bagaimana sich? Kita pasangan yang geli sendiri jika photo romantis,” catat Prilly menjadi info photo.

Read more:

Pengakuan wanita kelahiran 15 Oktober 1996 ini diamini oleh Maxime. Pria berwaja tampan itu mengakui bila dianya serta Prilly memang tidak dapat saat disuruh berpose romantis. “iya sangat tidak dapat deh kita,” kata Maxime.

Walau alami kesusahan, namun Prilly serta Maxime temukan pose yang pas untuk photo romantis. Prilly akan memutuskan untuk menggendong kekasihnya itu. “yaudah sini saya gendong kamu ajaa agar tidak mainstream kan cowo mulu yang gendong cewe…agar dapat dibuktikan pun saya cewe kuat,” catat Prilly.

Sekarang ini Prilly Latuconsina serta Maime Bouttier tengah repot dalam film paling baru MD Pictures yang berjudul Matt & Mou. Dalam film itu, pasangan kekasih ini bertindak menjadi Matt serta Mou yang telah berteman semenjak kecil.

Inilah Ulasan Film: ‘Shoplifters’

Dunia ini benar-benar abu-abu, ada baik di jelek serta ada jelek di baik. Premis itu yang coba dilukis tebal-tebal oleh Hirokazu Kore-Eda dalam film Shoplifters.

Film ini bercerita mengenai kehidupan satu keluarga miskin di Jepang yang coba bertahan hidup serta membuahkan uang dengan beberapa langkah di dalam keadaan ekonomi global yang makin susah.

Sang bapak, Osamu Shibata (Lily Franky), adalah seseorang buruh bangunan yang seringkali habiskan saatnya untuk mengutil satu toko. Lalu sang ibu, Nobuyo Shibata (Sakura Ando), kerja dalam tempat pencucian pakaian dengan upah rendah.

Pasangan suami istri ini tinggal dalam suatu rumah kecil dengan sang nenek, Hatsue Shibata (Kirin Kiki), yang memercayakan uang pensiun untuk menolong menghidupi keluarga itu.

Keluarga ini pula hidup komplet dengan sepasang anak bernama Aki (Mayu Matsuoka) yang kerja menjadi wanita penghibur serta Shota (Jyo Kairi) yang seringkali turut berlaga dengan sang bapak jadi pengutil.

Keluarga ini terlihat normal dalam kesengsaraan mereka. Walau hidup serba kekurangan, mereka masih sama-sama perduli serta membuat kehangatan satu keluarga di tengahnya mereka.

Osamu serta Shibata pun berupaya untuk mengasuh ke-2 anak mereka dengan pengasuhan yang ‘baik’ menurut pandangan kedua-duanya.

Cerita bersambung saat Osamu berjumpa seseorang anak kecil yang dibiarkan orangtuanya untuk bermain di balkon apartemen saat malam yang dingin. Dengan bekal belas kasih, Osamu pada akhirnya punya niat membawa pulang bocah wanita itu untuk tadi malam lantas merencanakan memulangkannya esok harinya.

Anak wanita bernama Yuri (Miyu Sasaki) itu memang tidak banyak bicara. Akan tetapi, luka di sekujur tubuhnya malah bicara banyak bagaimana perlakuan orang-tua Yuri padanya sampai kini.

Lebih waktu akan memulangkan Yuri ke tempat tinggalnya, Osamu serta Nobuyo dengar perkelahian ke-2 orang-tua Yuri mengenai hilangnya Yuri. Kedua-duanya jadi malas memulangkan Yuri ke tempat tinggalnya yang lebih mirip tempat penyiksaan buat Yuri.

Pada akhirnya, Yuri juga masuk ke keluarga itu bukan untuk tadi malam, tetapi untuk selama-lamanya. Masuknya gadis kecil ini ikut membukakan pintu-pintu rahasia tentang terbentuknya keluarga itu yang sebenarnya tidak diikat dengan gelar sedarah-sekandung.

Pertanyaan mengenai arti keluarga serta orang-tua sebenarnya dikibarkan pada pemirsa melalui cerita yang begitu sukses mengacak-acak perasaan itu.

Shoplifters sukses menghimpun rumor sosial terutamanya mengenai anak, wanita, serta lanjut usia jadi kesatuan puzzle. Kore-eda membuat pemirsa berkontemplasi mengenai apakah yang umumnya dipercaya penduduk tentang satu keluarga.

Salah satunya rumor yang dilukiskan dengan tegas ialah penelantaran anak-anak. “Apa Anda automatis jadi Ibu saat Anda telah melahirkan seseorang anak?” tutur pemeran Nobuyo dalam satu adegan.

Dialog ini jadi satu sindiran keras buat beberapa orang-tua yang terasa telah jadi ‘orangtua’ cuma sebab dapat melahirkan seseorang anak, tiada siap untuk membesarkan anak lewat cara yang pas serta penuh kasih.

Walau berjenis drama, janganlah berharap temukan adegan beberapa tokoh di dalamnya berlaku ‘menye’ atau manja dengan jual bagian susah kemiskinan mereka. Film ini tidak mendatangkan adegan melankolis terlalu berlebih satu potret kemiskinan.

Beberapa tokoh dilukiskan menjadi pribadi yang akan berupaya keras memenuhi keperluan hidup walau mesti bertentangan dengan hukum serta etika penduduk.

Beberapa ciri-khasnya mewakili semua peluang terburuk saat manusia ada dalam keadaan finansial miskin dengan menyisipkan rumor penelantaran serta kekerasan pada anak. Uniknya, mereka dilukis dengan halus serta pemirsa baru akan memperoleh deskripsi utuh karakter dari beberapa ciri-ciri diakhir film.

Film ini ikut meneruskan karya Kore-eda yang memang berkelanjutan mengusung rumor keluarga. Awal mulanya, dia telah bergulat dengan topik ini dalam film ‘Like Father, Like Son’ (2013), ‘Our Little Sister’ (2015), ‘Nobody Knows’ (2004), serta ada banyak kembali.

Seperti film-film awal mulanya, Kore-eda tampilkan banyak hubungan alami satu keluarga yang kecil tetapi biasanya membawa kebahagiaan. Adegan seperti bermain ke pantai, makan bersama dengan, sampai share cerita serta permasalahan jadi peristiwa yang mengundang kehangatan.

Akting aktor/aktrisnya yang alami, dialog indah nan reflektif, dan jarak surprise yang cocok adalah senjata penting Shoplifters memvisualisasikan persoalan sosial dengan arif. Emosi pemirsa dilewatkan turun naik saat rajutan pengungkapan latar belakang setiap tokohnya tersambung.

Baca juga:

Di film yang launching pertama-tama pada Mei 2018, pemirsa akan susah memastikan ciri-ciri antagonis serta protagonis. Semua ciri-ciri dilukiskan abu-abu, tidak seutuhnya baik akan tetapi pun tidak tetap lakukan perihal jahat.

Kore-eda memvisualisasikan manusia menjadi koin yang tetap mempunyai dua bagian dalam melakukan kehidupan. Begitu padat filosofi. Shoplifters tawarkan pertanyaan-pertanyaan besar mengenai tanggung jawab serta pilihan hidup.

Kualitas film ini sudah mengantar keluarga Shibata ke beberapa festival film internasional. Bahkan juga, deretan penghargaan internasional sudah disabet seperti Palme d’Or di Cannes Film Festival, Best Foreign Language Film di Boston serta Los Angeles Society of Film Critics.

Nah ‘Roma’ Film Berbahasa Asing Terbaik Golden Globe Awards 2019

Film garapan Alfonso Cuaron, Roma sukses membawa pulang Best Foreign Language Film dalam arena Golden Globe Awards 2019 yang diadakan di Beverly Hilton, California, Senin (7/1).

“Terima kasih banyak untuk Hollywood Foreign Press,” kata Cuaron saat terima piala Golden Globe.

Dalam pidato kemenangannya, Cuaron menyentuh masalah peranan film dalam rayakan ketidaksamaan budaya. Diluar itu, dia pun memberi kemenangannya atas semua pemain serta kru yang bermain dalam film yang dibikin dari masa lalu waktu kecilnya itu.

Roma menaklukkan empat film berbahasa asing yang lain, yakni ‘Capernaum’ – Libanon, ‘Girl’ – Belgia, ‘Never Look Away’ – Jerman, serta ‘Shoplifters’ – Jepang.

Kemenangan Roma ini jadi kemenangan pertama Cuaron membawa pulang piala Golden Globe untuk kelompok Foreign Language.

Awal mulanya pada 2002, Cuaron sempat mendapatkan nominasi Golden Globe lewat karyanya yang berbahasa Spanyol, ‘Y Tu Ibu Tambien’.

“Saya begitu bahagia masalah hal itu [nominasi] tetapi saya sangat bahagia sebab ini film Meksiko serta berbahasa Spanyol,” kata Cuaron saat terlibat perbincangan dengan CNNIndonesia.com, waktu lalu.

“Jadi saya sangat bahagia sebab Golden Globe rayakan keberagaman dalam film dari budaya yang jauh berlainan dari mereka,” sambungnya.

Roma menceritakan perjalanan seseorang pekerja domestik bernama Cleodegaria Gutiérrez, atau yang biasa dimaksud Cleo (Yalitza Aparicio). Dianya kerja serta tinggal bersama dengan satu keluarga yang alami permasalahan rumah tangga.

Simak Juga:

Nyonya majikannya yang bernama Sofia mesti melawan tingkah laku sang suami, Antonio, yang jarang pulang serta pemarah. Sampai satu kali, Sofia mengerti Antonio mempunyai wanita simpanan.

Cleo tidak cuma mesti melawan keadaan emosional majikannya yang amburadul sambil mengatur empat anak-anaknya serta rumah yang besar, tapi pun narasi cintanya yang nelangsa.

Jatuh hati pada pemuda bernama Fermin sampai membuahkan jabang bayi disangka Cleo awalannya ialah karena. Sampai akhirnya, Fermin tidak ingin mengaku anak itu serta meninggalkannya menjadi beban buat Cleo.

Nah Debut di China, ‘Bumblebee’ Terendah di Seri ‘Transformers’

Film lepasan Transformers, Bumblebee sah launching di China di akhir minggu kemarin. Walau menempati puncak box office negara itu dengan US$58,8 juta, akan tetapi pencapaian itu malah paling rendah dari seri Transformers yang sempat tampil di China.

Dilaporkan Variety, sebelumnya ada Bumblebee, Transformers: The Last Knight memperoleh US$120 juta di akhir minggu pembukaannya pada 2017 kemarin. Sedang Transformers: Age of Extinction pada 2014 dapat mendulang US$92 juta diakhir minggu perilisannya.

Capaian dua film itu membuat jadi pembukaan paling besar ke-11 serta 23 paling besar selama hidup di China.

Walau tidak sangat mempunyai perform kuat seperti pendahulunya, Bumblebee disadari mempunyai kemampuan dengan kualitas. Pemirsa film China diberitakan sangat suka pada film ini dengan rating 9,2 dari 10 dikasihkan untuk Bumblebee di situs Maoyan.

Banyak pemirsa mengakui terasa gemas dengan Bumblebee serta terasa jika film ini pula butuh semakin banyak pemeran wanita. Diluar itu, beberapa penjelasan mengakui terasa nostalgia saat melihat film ini.

“Ini mungkin film Transformers yang sudah saya tunggu-tunggu,” kata seseorang pengulas di situs Maoyan.

“Anda betul-betul rasakan sensasi mainan Transformers dari waktu kanak-kanak,” sambungnya.

Bumblebee sekarang sudah kantongi box office sebesar US$289 juta dari semua dunia, dengan capaian di pasar domestik Amerika Utara sebesar US$97,1 juta serta pasar internasional sebesar US$192 juta.

Di lain sisi, dikabarkan Variety, bertepatan dengan rilisnya Bumblebee, film Creed II yang disebut lepasan dari serial ‘Rocky’ datang di posisi lima terbawah dengan US$1,7 juta.

Read more:

Bumblebee dibikin dengan latar waktu 20 tahun sebelum momen di film pertama Transformers (2007), saat mobil robot kuning itu berlindung dalam suatu tempat barang rongsokan di pantai kecil di California. Itu waktu dia belumlah berjumpa teman dekat manusianya.

Film ini di bintangi oleh Hailee Steinfeld, John Cena, Abby Quinn, Pamela Adlon, Ricardo Hoyos, Gracie Dzienny, John Ortiz, Jorge Lendeborg Jr. serta Jason Drucker.

Ternyata iKON Rajai Tangga Musik Dunia Lewat Lagu ‘I’m OK’

Boyband iKON sukses mengambil perhatian melalui lagu baru “I’m OK” yang launching Senin (7/1) tempo hari. Lagu sebagai sisi dalam album paling baru “New Kids Repackage : The New Kids” itu langsung menempati beberapa puncak tangga musik iTunes Top Songs di semua dunia.

Sekurang-kurangnya, per Selasa (8/1) pagi, iKON sudah menempati puncak tangga lagu iTunes di 12 negara termasuk juga Malaysia, Arab Saudi, Singapura, Vietnam, serta Filipina.

Lagu I’m OK bercerita mengenai perasaan terjatuh tetapi tidak perlu dikasihani. Arti itu cukuplah jelas mereka tuang ke video musiknya.

Musik dalam I’m OK dibuat oleh B.I serta Future Bounce. Sedang liriknya, ditulis oleh B.I bersama dengan Bobby serta Kim Jong Won.

Sesaat, menurut Soompi, albumnya sendiri sudah menempati puncak tangga musik iTunes Top Album sekurang-kurangnya di 7 negara.

Bahkan juga, spesial di Jepang, iKON sukses merajai tangga musik termasuk juga Top K-Pop Albums, Top K-Pop Songs, serta Top Pop Songs. Serta di China, video musik I’m OK sudah jadi yang terpopuler di situs musik QQ.

Album kemas lagi ini adalah kombinasi dari ke empat seri album mini New Kids yang launching iKON semenjak dua tahun yang lalu.

Salah satunya ada New Kids: Begin launching pada 2016, lalu New Kids: Return pada Januari 2018, lalu New Kids: Continue pada Agustus awal, dan New Kids: Final pada awal Oktober kemarin.

Album “New Kids Repackage : The New Kids” launching dengan digital pada Senin (7/1) tempo hari, sesaat vs fisiknya launching di hari ini (8/1).

Nah Selisik Kelayakan ‘Bohemian’ Jadi Film Terbaik Golden Globe

Film biopik Queen, Bohemian Rhapsody, mencapai dua penghargaan berprestise di Golden Globe Awards 2019. Film yang di produksi 20th Century Fox itu mendapatkan Best Motion Picture – Drama serta Best Actor in a Motion Picture – Drama melalui Rami Malek.

Tidak lainnya serta tidak bukan, Malek bertindak menjadi penyanyi Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury. Tentunya peranan itu tidak gampang. Lebih Freddie telah wafat hingga Malek tidak dapat belajar langsung.

“(Peranan) ini dapat begitu salah (buat saya), peranan itu bisa saja merugikan karir seorang jika tidak berjalan dengan benar,” kata Malek waktu lalu.

Malek sudah sempat sangsi saat mendapatkan penawaran untuk memainkan ciri-ciri Mercury. Akan tetapi dia berfikir cuma orang naif yang menduga jika seseorang aktor dapat memainkan satu ciri-ciri sama juga dengan aslinya.

Fakta Malek ambil peranan itu ialah sebab ada banyak hal mengenai Mercury yang belumlah didapati beberapa orang. Seperti perasaan malu, perasaan kesepian serta perjuangan untuk temukan jati diri.

Aktor berdarah Mesir ini memahami ciri-ciri dengan menganalisa musisi sebagai ide Mercury. Beberapa salah satunya ialah Jimi Hendrix, David Bowie serta Liza Minnelli. Uniknya dia lebih terasa bermanfaat untuk syuting saat melihat Liza dibanding figur Mercury.

Waktu latihan bernyanyi, Malek pun berjumpa dengan koreografer supaya bisa sama dengan tindakan panggung Freddie. Lama kelamaan dia sadar jika Freddie berjalan dengan spontan waktu tampil. Pada akhirnya dia pilih berlatih dengan pelatih pergerakan atau movement coach.

Dari peristiwa itu dapat disaksikan jika Malek betul-betul memerhatikan Freddie. Dia seakan ingin betul-betul jadi Freddie, bukan sebatas akting menjadi atau menirukan Freddie.

Sesudah pergerakan, pekerjaan lainnya yang perlu dia kerjakan ialah kenakan baju. Dalam video promo bertopik Becoming Freddie, dia menceritakan mengenai pengalamannya coba baju.

“Kami habiskan seputar 50 jam di ruangan baju, dengan sepatu memiliki hak basis setinggi empat inci, celana satin sangat ketat serta baju yang terbuat dari Lycra,” papar Malek dalam video.

Tidak lupa, dia pun kenakan gigi palsu supaya tampilan fisiknya sama dengan Freddie. Saat interviu dengan New Yorker, Malek mengutarakan dia menaruh set gigi palsu yang dipakainya untuk kepentingan syuting.

Baca juga:

Semua usaha Malek berbuah manis. Aktingnya dalam Bohemian Rhapsody begitu bagus dari beberapa segi. Lebih saat adegan Queen tampil di beberapa panggung, Malek seperti ‘kesurupan’ Freddie.

Liuk badan, tangan serta kaki betul-betul sama dengan Freddie. Termasuk juga saat dia mengusung tangan sambil melonjak serta mainkan tiang mik sambil mondar-mandir kanan-kiri panggung.

Tidak bingung jika dia mencapai penghargaan Best Actor in a Motion Picture Golden Globe 2019. Dia memang wajar mendapatkan itu serta masih tetap mungkin mendapatkan penghargaan dari arena yang lainnya.

Lepas dari tindakan Malek yang begitu bagus, sebetulnya Bohemian Rhapsody kurang wajar mendapatkan Best Motion Picture – Drama. Ya, mesti disadari film itu bagus, tetapi untuk tidak sekelas pemenang film terunggul Golden Globe Awards.

Bohemian Rhapsody sebenarnya berasa seperti film yang dibikin dengan arah penting memperoleh uang, bukan membuahkan satu mahakarya sinematik.

Keren Nih ‘The Notebook’ Diadaptasi ke Panggung Teater

The Notebook, narasi fantastis karangan Nicholas Sparks yang sempat meledak waktu difilmkan, sekarang akan didatangkan di panggung Teater Broadway. Gagasan itu dikatakan vokalis sekaligus juga penulis lagu Ingrid Michaelson dalam acara Today, Kamis (3/1).

Figur yang telah memiliki pengalaman dalam produksi teater musikal itu mengakui tengah meningkatkan musikal The Notebook saat lebih dari satu tahun paling akhir.

“Saat ditawari masuk dalam musikal The Notebook, saya sudah sempat izin ke toilet serta menangis. Saya begitu suka pada film serta ceritanya. Saat saat ini ada inspirasi untuk mengadaptasinya ke musikal, saya begitu bahagia,” katanya, diambil Deadline.

Bekah Brunstetter didapuk jadi penulis, bekerja bersama dengan Sparks sendiri.

Produser musikal ini ialah Kevin McCollum serta Kurt Deutsch. McCollum diketahui menjadi produser drama musikal yang tampil di Teater Broadway, sesaat Deutsch adalah pendiri Sh-K-Broom Records, satu cap rekaman spesial musik untuk teater musikal.

Baca juga:

Seperti dikabarkan Reuters, Sparks mengakui suka turut ikut serta dalam produksi broadway. “Narasi itu dekat dengan hati saya,” tuturnya mengutarakan.

Selama ini belumlah ada pengumuman masalah siapa yang akan turut ikut serta dalam produksi itu serta kapan dia akan dimainkan. The Notebook menyusul Mean Girls serta Pretty Woman, film usang yang kembali didatangkan melalui panggung teater.

Sparks menerbitkan The Notebook pada 1996. Ceritanya diadaptasi ke film pada 2004.

Dengan rating sampai 7.9/10 oleh IMDb serta di bintangi Ryan Gosling dan Rachel McAdams, film ini sukses serta membuat pemirsa turut terharu dengan cerita ciri-ciri Allie serta Noah.